Penyuluh Pertanian WKPP Cimande melaksanakan kegiatan sosialisasi persiapan budidaya padi sawah menggunakan metode PM-AAS (Pertanian Modern - Advanced Agricultural System) bersama Kelompoktani Antanan yang berlokasi di Kp. Tarikolot, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.
Di bawah kepemimpinan Mama Haji Agus Asmara, petani yang tergabung dalam Kelompoktani Antanan menyatakan kesiapan untuk menerapkan budidaya padi sawah metode PM-AAS pada untuk perdana pada lahan seluas 1 hektare. Pelaksanaan penanaman direncanakan dimulai pada bulan Oktober setelah musim panen, mengingat kondisi lahan saat ini masih ditanami padi yang baru berumur sekitar 1,5 bulan.
Dalam mendukung keberhasilan program tersebut, Penyuluh Pertanian mengupayakan pengadaan benih dan drum seeder. Untuk luasan 1 hektare dibutuhkan sekitar 70 kg benih. Penyuluh juga menekankan pentingnya persiapan lahan sebelum penanaman, yaitu dengan memberikan pupuk kandang yang telah matang sebagai pupuk dasar sebelum pengolahan tanah agar tercampur merata dan mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kandungan bahan organik, aktivitas mikroorganisme, serta menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman sejak awal pertumbuhan.
Penyuluh Pertanian menjelaskan bahwa teknik budidaya PM-AAS dilakukan dengan tanam benih langsung, menggunakan jarak antar tanaman sekitar 2–3 cm, jarak antar baris 25 cm, kemudian dibuat sistem legowo setiap 4 atau 6 baris dengan jarak 50 cm. Selain itu disampaikan pula bahwa kebutuhan pemupukan pada metode PM-AAS umumnya lebih tinggi dibandingkan budidaya konvensional sehingga diperlukan pengelolaan hara yang lebih baik agar potensi hasil dapat tercapai secara optimal.
Dalam kesempatan tersebut, Bapak Haji Iwan menyambut baik penerapan metode PM-AAS karena memiliki berbagai keunggulan, di antaranya tanaman tidak mengalami stres akibat pindah tanam sehingga pertumbuhannya lebih cepat, sistem perakaran berkembang lebih kuat, umur panen berpotensi lebih singkat, populasi tanaman lebih banyak dan seragam, efisiensi penggunaan tenaga kerja saat tanam, kehilangan bibit akibat proses pindah tanam dapat diminimalkan, tanaman lebih cepat menutup permukaan lahan sehingga mampu menekan pertumbuhan gulma, serta memiliki potensi peningkatan produktivitas hingga mencapai target 10 ton/ha apabila diterapkan sesuai rekomendasi teknis dan didukung pengelolaan budidaya yang baik.
Sementara itu, Mama Haji Agus Asmara menambahkan bahwa di samping berbagai kelebihan tersebut, metode PM-AAS juga memiliki beberapa tantangan yang perlu diantisipasi. Benih yang ditanam langsung tidak boleh tergenang atau tertimbun lumpur terlalu lama karena dapat membusuk sebelum berkecambah. Curah hujan yang tinggi setelah tanam berpotensi menghanyutkan benih, sedangkan hama seperti burung, ayam, dan tikus juga dapat menurunkan populasi tanaman apabila tidak dilakukan pengamanan sejak awal pertumbuhan.
Pada sesi diskusi, Bapak Hadi menyampaikan pentingnya menjaga lapisan lumpur paling atas (top soil) agar tidak dibuang keluar petakan sawah saat proses penyorongan atau perataan lahan. Lapisan top soil merupakan bagian tanah yang paling subur karena mengandung bahan organik, humus, mikroorganisme bermanfaat, unsur hara makro dan mikro, serta memiliki struktur yang lebih gembur sehingga sangat berperan dalam pertumbuhan akar tanaman. Apabila lapisan ini dibuang keluar petakan sawah, maka tingkat kesuburan lahan akan menurun, kemampuan tanah menyimpan air dan unsur hara berkurang, aktivitas mikroba tanah terganggu, serta produktivitas tanaman dalam jangka panjang dapat mengalami penurunan. Oleh karena itu, proses perataan lahan sebaiknya hanya memindahkan lumpur di dalam petakan sawah tanpa membuang lapisan tanah paling subur tersebut ke luar areal persawahan.
Selain sosialisasi PM-AAS, Penyuluh Pertanian WKPP Cimande juga menyampaikan rencana kegiatan Kementerian Koordinator Bidang Pangan mengenai program Pengembangan Budidaya Sayuran yang akan dilaksanakan di Desa Cimande. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi peluang bagi petani untuk meningkatkan diversifikasi usaha tani sekaligus memperkuat ketahanan pangan di wilayah pedesaan.
Diskusi kemudian dilanjutkan mengenai perkembangan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S). Dalam sesi diskusi memiliki inti kesimpulan yaitu berharap fungsi P4S sebagai lembaga pelatihan pertanian di tingkat pedesaan dapat kembali diperkuat melalui sinergi seluruh pihak, sehingga mampu menjadi pusat pembelajaran, inovasi, dan pengembangan kapasitas petani secara berkelanjutan.
Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar.
[Red_AKw]
---------
Kunjungi kami di:
IG: @jejak_penyuluh
FB: Jejak Penyuluh Pertanian
https://jejak-penyuluh.blogspot.com
°
°
°
#kementerianpertanian #pusluhtanri #bppsdmp #pusluhtanri #amran_sulaiman #distanhortijabar #dedimulyadi71 #distanhorbunkabbogor #kabupatenbogor #rudysusmanto #jaro_ade #kecamatancaringin #kecamatancijeruk #kecamatancigombong #jejak_penyuluh #desacimande #kelompoktaniantanan #pm_aas #p4s







Tidak ada komentar:
Posting Komentar