Penyuluh Pertanian bersama Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) Desa Cimande Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor,. Andri Kw dan Bapak Iyer Suherman melaksanakan kunjungan lapangan ke Kelompoktani Tumpangsari Maju, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.
Kunjungan kali ini dilaksanakan di lahan milik Bapak Hasan yang berlokasi di Kampung Nangoh. Saat kunjungan berlangsung, Bapak Hasan bersama anggota Kelompoktani Tumpangsari Maju tengah melakukan panen leunca dengan hasil yang cukup menggembirakan.
Leunca (Solanum nigrum L.) merupakan tanaman hortikultura yang banyak dibudidayakan sebagai sayuran dan lalapan khas masyarakat Sunda. Tanaman ini memiliki buah kecil berwarna hijau yang tumbuh bergerombol dan dapat dipanen dalam waktu relatif singkat. Selain mudah dibudidayakan, leunca juga memiliki nilai ekonomi yang baik karena permintaannya stabil di pasar tradisional maupun modern.
Dari sisi kesehatan, leunca kaya akan antioksidan, vitamin A, vitamin C, zat besi, serta senyawa flavonoid dan alkaloid yang bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, membantu mengontrol kadar gula darah, menjaga kesehatan mata, serta berpotensi sebagai antiinflamasi alami. Kandungan nutrisinya yang tinggi menjadikan leunca kini mulai dikenal sebagai salah satu super food lokal yang potensial dan bernilai gizi tinggi.
Di sela kegiatan panen, Penyuluh Pertanian juga melakukan monitoring pada tanaman cabai keriting dan tomat yang berada di lahan yang sama. Ditemukan gejala serangan penyakit layu Fusarium dengan ciri khas: tanaman tampak layu pada siang hari terutama saat cuaca panas, kemudian kembali segar pada sore hingga pagi hari, dan kembali layu saat suhu meningkat. Gejala ini disebabkan oleh jamur Fusarium sp. yang menyerang pembuluh angkut tanaman sehingga distribusi air dan nutrisi terganggu.
Langkah pengendalian yang direkomendasikan meliputi:
1. Pengendalian preventif dan kimiawi
- Penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif yang efektif terhadap Fusarium sesuai dosis anjuran.
- Pengocoran fungisida ke area perakaran untuk menekan perkembangan patogen di dalam tanah.
- Aplikasi agens hayati seperti Trichoderma sp. untuk menekan populasi jamur patogen di tanah.
2. Pengendalian kultur teknis
- Perbaikan drainase lahan agar tidak terjadi genangan air.
- Rotasi tanaman dengan komoditas non inang.
- Penggunaan pupuk organik matang untuk memperbaiki struktur dan kesehatan tanah.
3. Pengendalian tanaman terserang
- Tanaman yang menunjukkan gejala berat segera dicabut hingga ke akar.
- Proses pencabutan harus dilakukan secara hati-hati agar tanah bekas tanaman sakit tidak berceceran ke tanaman sehat.
- Tanaman yang telah dicabut dimusnahkan (dibakar atau dikubur jauh dari lahan).
- Lubang bekas tanaman sakit diberikan perlakuan fungisida atau agens hayati.
- Sanitasi lahan dan alat pertanian dilakukan sebelum meninggalkan lokasi agar tidak menularkan penyakit ke tanaman sehat lainnya.
Sebagai tindak lanjut atas temuan serangan layu Fusarium pada cabai merah keriting dan tomat, Penyuluh Pertanian segera melakukan koordinasi dengan Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) guna mendapatkan penanganan teknis yang lebih intensif dan tepat sasaran.
Melalui sinergi antara petani, Penyuluh Pertanian, PPS, dan POPT diharapkan produksi hortikultura di Desa Cimande tetap terjaga, sehat, dan berkelanjutan.
[Red_AKw]
-----
Kunjungi kami di:
IG: @jejak_penyuluh
FB: Jejak Penyuluh Pertanian
https://jejak-penyuluh.blogspot.com
°
°
°
#kementerianpertanian #pusluhtanri #bppsdmp #pusluhtanri #amran_sulaiman #distanhortijabar #dedimulyadi71 #distanhorbunkabbogor #kabupatenbogor #rudysusmanto #jaro_ade #kecamatancaringin #kecamatancijeruk #kecamatancigombong #jejak_penyuluh #desalemahduhur #kelompoktanitumpangsarimaju







.png)

