Senin, 31 Agustus 2026

TATA CARA PEMUPUKAN PADI SAWAH METODE PM-AAS BERDASARKAN 5 TEPAT



1. TEPAT WAKTU
Pemupukan dilakukan secara bertahap mengikuti fase pertumbuhan tanaman padi, sehingga unsur hara tersedia ketika benar-benar dibutuhkan tanaman.
NPK majemuk diberikan dalam dua tahap. Pemupukan pertama dilakukan pada umur 20–25 HST (Hari Setelah Tanam) sebanyak 300 kg/ha. Pemupukan kedua diberikan pada umur 40–45 HST sebanyak 100 kg/ha. Dengan demikian, total NPK majemuk adalah 400 kg/ha.
Urea diberikan secara bertahap. Sebanyak ½ dosis atau 150 kg/ha diberikan pada umur 40–45 HSS (Hari Setelah Sebar). Sisa Urea diberikan ketika tanaman mulai memasuki fase primordia, yaitu fase awal pembentukan malai. Pemberian sisa Urea tersebut mengikuti hasil monitoring warna daun menggunakan Bagan Warna Daun (BWD).

Pupuk Silika cair diberikan secara bertahap pada umur 15, 25, 35, 45, dan 55 HST. Penyemprotan dilakukan pada pagi hari ketika stomata tanaman terbuka.

SP-36, apabila diperlukan berdasarkan status P tanah, diberikan pada awal tanam. Sementara itu, dolomit diberikan sekitar 1–2 minggu sebelum tanam apabila kondisi tanah memerlukan pengapuran.

2. TEPAT JENIS
Pemilihan pupuk harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.

NPK majemuk merupakan sumber unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). NPK berfungsi mendukung pertumbuhan batang dan daun serta memperkuat sistem perakaran padi.

Urea digunakan sebagai sumber utama Nitrogen tambahan. Pemberiannya tidak dilakukan sekaligus, tetapi dibagi sesuai fase pertumbuhan dan hasil monitoring BWD.

SP-36 dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan Fosfor dan membantu meningkatkan kebernasan gabah. Penggunaannya disesuaikan dengan status P tanah.

Pupuk organik juga direkomendasikan sebagai bagian dari sistem PM-AAS. Bentuknya dapat berupa pupuk organik granul (POG), pupuk kandang yang sudah matang, kompos, biochar, maupun bahan organik lainnya.

Pupuk Silika (Si) digunakan sebagai salah satu bahan pendukung untuk membantu mencegah tanaman mengalami kerebahan.
Dolomit/amelioran digunakan apabila kondisi tanah memerlukan perbaikan, terutama pada tanah masam.

ZPT/booster dapat digunakan untuk meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit serta mendukung pertumbuhan pada fase vegetatif maupun generatif.

3. TEPAT DOSIS
Untuk dosis utama, pemupukan dilakukan sebagai berikut.
NPK majemuk total 400 kg/ha
NPK diberikan dalam dua kali aplikasi:
Pertama: umur 20–25 HST sebanyak 300 kg/ha.
Kedua: umur 40–45 HST sebanyak 100 kg/ha.
Jadi:
300 kg/ha + 100 kg/ha = 400 kg/ha NPK majemuk.
Pembagian ini dimaksudkan agar penyediaan unsur hara N, P, dan K berlangsung secara bertahap sesuai pertumbuhan tanaman.

Urea total 300 kg/ha
Urea dibagi menjadi dua bagian utama.
Pertama: sebanyak 150 kg/ha atau ½ dosis diberikan pada umur 40–45 HSS.
Kedua: sisa 150 kg/ha diberikan ketika tanaman memasuki fase primordia, dengan dosis pemberian disesuaikan berdasarkan hasil monitoring warna daun menggunakan BWD.
Dengan demikian:
150 kg/ha + 150 kg/ha = 300 kg/ha Urea.
Namun, perlu diperhatikan bahwa 150 kg/ha kedua tidak semata-mata diberikan berdasarkan hitungan kalender, melainkan waktunya mengikuti masuknya tanaman ke fase primordia dan rekomendasi hasil monitoring BWD.

SP-36
Jika diperlukan untuk meningkatkan kebernasan gabah, dosisnya mengikuti status P tanah:
P tanah rendah: 100 kg/ha.
P tanah sedang: 75 kg/ha.
P tanah tinggi: 50 kg/ha.
SP-36 diberikan pada awal tanam.

Pupuk organik
Pupuk organik padat direkomendasikan diberikan secara rutin dengan dosis minimal 2 ton/ha. Pupuk organik cair dapat diberikan apabila diperlukan dan dosisnya disesuaikan dengan kebutuhan.

Silika
Silika padat digunakan dengan kandungan SiO₂ minimal 25% dan dosis mengikuti anjuran produk.
Untuk Silika cair, kandungan SiO₂ minimal 10%, dengan dosis sekitar 3 L/ha atau sesuai dosis anjuran produk.

Dolomit
Pada tanah masam dengan pH ≤5,5, direkomendasikan dolomit minimal 1 ton/ha.
Pada tanah dengan pH 5,5–6,0, diberikan 500 kg/ha.
Pada tanah dengan pH netral, tidak perlu diberikan dolomit.
Dosis amelioran pada kondisi lainnya disesuaikan dengan kondisi spesifik lahan dan hasil analisis tanah.

4. TEPAT TEMPAT
Pemupukan harus ditempatkan atau diarahkan pada sasaran yang sesuai dengan karakter pupuk dan kebutuhan tanaman.

Pupuk NPK dan Urea diberikan pada areal pertanaman padi sesuai jadwal pemupukan dan kebutuhan tanaman.

SP-36 diberikan pada awal tanam untuk memenuhi kebutuhan Fosfor, terutama apabila status P tanah rendah.

Pupuk organik diberikan pada lahan pertanaman untuk membantu menjaga kesehatan tanah dan keberlanjutan sistem produksi padi.

Dolomit diberikan pada tanah yang membutuhkan perbaikan sifat kimia, fisik, dan biologi, terutama tanah dengan tingkat kemasaman tinggi.

Untuk Silika cair, aplikasinya diarahkan langsung ke tanaman melalui penyemprotan. Penyemprotan dilakukan pada pagi hari saat stomata terbuka agar aplikasi sesuai dengan karakter penggunaannya.

5. TEPAT CARA
Pemupukan Padi Sawah menggunakan metode PM-AAS dilakukan dengan prinsip efisien, berimbang, dan sesuai kebutuhan tanaman serta kondisi lahan.

NPK tidak diberikan sekaligus, tetapi dibagi menjadi dua aplikasi, yaitu 300 kg/ha pada umur 20–25 HST dan 100 kg/ha pada umur 40–45 HST.

Urea juga tidak diberikan sekaligus. 150 kg/ha diberikan pada umur 40–45 HSS, sedangkan sisa 150 kg/ha diberikan saat tanaman memasuki fase primordia berdasarkan hasil monitoring BWD.

Pupuk organik diberikan secara rutin untuk membantu menjaga kesehatan tanah.

Silika cair diaplikasikan dengan cara disemprotkan ke tanaman pada pagi hari saat stomata terbuka, dan dilakukan secara bertahap pada umur 15, 25, 35, 45, dan 55 HST.


*URUTAN PRAKTIS PEMUPUKAN PADI SAWAH METODE PM-AAS*
-----
Secara sederhana, pelaksanaan pemupukan dapat dipahami sebagai berikut:

1. Sebelum tanam
Periksa kondisi dan pH tanah. Jika tanah masam, berikan dolomit sekitar 1–2 minggu sebelum tanam sesuai kebutuhan.

2. Awal tanam
Berikan SP-36 apabila diperlukan berdasarkan status P tanah. Pupuk organik juga diberikan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan tanah.

3. Umur 20–25 HST
Berikan NPK majemuk 300 kg/ha.

4. Umur 40–45 HST
Berikan NPK majemuk 100 kg/ha sehingga total NPK menjadi 400 kg/ha.

5. Umur 40–45 HSS
Berikan Urea 150 kg/ha, yaitu setengah dari total dosis 300 kg/ha.

6. Memasuki fase primordia
Berikan sisa Urea 150 kg/ha, dengan pemberian mengikuti hasil monitoring menggunakan BWD.

7. Umur 15, 25, 35, 45, dan 55 HST
Apabila menggunakan Silika cair, lakukan penyemprotan sekitar 3 L/ha atau sesuai dosis label produk, pada pagi hari saat stomata terbuka.

🎯  _*KESIMPULAN*_
Pemupukan padi sawah dengan metode PM-AAS harus dilakukan berdasarkan prinsip 5 Tepat, yaitu:
Tepat waktu → pupuk diberikan sesuai fase pertumbuhan tanaman.
Tepat jenis → gunakan NPK, Urea, SP-36, pupuk organik, Silika, dolomit, dan bahan pendukung lainnya sesuai kebutuhan.
Tepat dosis → gunakan dosis yang direkomendasikan dan sesuaikan dengan kondisi tanah serta hasil monitoring tanaman.
Tepat tempat → pupuk diaplikasikan pada sasaran yang tepat, baik tanah maupun tanaman sesuai jenis pupuknya.
Tepat cara → pupuk diberikan secara bertahap, berimbang, efisien, dan sesuai karakter masing-masing pupuk.

Dengan pola tersebut, NPK 400 kg/ha dibagi menjadi 300 kg/ha + 100 kg/ha, sedangkan Urea 300 kg/ha dibagi menjadi 150 kg/ha + sisa 150 kg/ha pada fase primordia berdasarkan BWD. Prinsip utamanya adalah tidak memberikan Nitrogen secara berlebihan, karena kelebihan Nitrogen dapat meningkatkan risiko kerebahan serta serangan hawar daun bakteri dan blas.

Sumber: Petunjuk Teknis PM-AAS yang diterbitkan oleh Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian

Dirangkum oleh: AKw
------
Kunjungi kami di:
IG: @jejak_penyuluh
FB: Jejak Penyuluh Pertanian
https://jejak-penyuluh.blogspot.com

°
°
°
#kementerianpertanian #pusluhtanri #bppsdmp #pusluhtanri #amran_sulaiman #distanhortijabar #dedimulyadi71 #distanhorbunkabbogor #kabupatenbogor #rudysusmanto #jaro_ade #kecamatancaringin #kecamatancijeruk #kecamatancigombong #jejak_penyuluh #pm_aas


Minggu, 30 Agustus 2026

PENYULUH PERTANIAN KABUPATEN BOGOR DAN KOTA BOGOR IKUTI NGOBRAS PENYULUHAN ON THE SPOT VOL. 4/2026 SECARA OFFLINE



Perwakilan Penyuluh Pertanian dari Kabupaten Bogor dan Kota Bogor berkesempatan mengikuti secara langsung (offline) Kegiatan NGOBRAS Penyuluhan On The Spot Vol. 4/2026 yang dilaksanakan di Gedung Perpustakaan dan Pengetahuan Pertanian Digital (P3D), Jl. A. Yani No. 70, Tanah Sareal, Kota Bogor.

Kegiatan ini menjadi momentum bagi para Penyuluh Pertanian untuk menambah wawasan serta memperkuat pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung pelaksanaan penyuluhan pertanian di lapangan.

Materi yang dibahas dalam kegiatan NGOBRAS Penyuluhan On The Spot Vol. 4/2026 yaitu Sosialisasi dan Pemanfaatan Aplikasi Juma AI bagi Penyuluh Pertanian, yang disampaikan oleh 3 narasumber, yaitu:
Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian.
Tenaga Ahli Menteri Bidang Food Estate.
Tenaga Ahli Menteri Bidang Pengembangan Pertanian Presisi.

Melalui kegiatan ini, Penyuluh Pertanian diharapkan semakin siap memanfaatkan perkembangan teknologi dan aplikasi digital sebagai sarana untuk meningkatkan efektivitas penyuluhan, memperluas akses informasi, serta memberikan pendampingan yang lebih optimal kepada para pelaku utama dan pelaku usaha pertanian.



Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar.
[Red_AKw]
------
Kunjungi kami di:
IG: @jejak_penyuluh
FB: Jejak Penyuluh Pertanian
https://jejak-penyuluh.blogspot.com
°
°
°
#kementerianpertanian #pusluhtanri #bppsdmp #pusluhtanri #amran_sulaiman #distanhortijabar #dedimulyadi71 #distanhorbunkabbogor #kabupatenbogor #rudysusmanto #jaro_ade #kecamatancaringin #kecamatancijeruk #kecamatancigombong #jejak_penyuluh #desa #kelompoktani















Sabtu, 29 Agustus 2026

EVALUASI PENEBUSAN PUPUK BERSUBSIDI, PETUGAS VERVAL DAMPINGI PEMUTAKHIRAN RDKK UNTUK ALOKASI TAHUN 2027



🌾 Pendampingan RDKK Bersubsidi di PPTS Tani Mukti dan PPTS Berkah Tani 🌾

Petugas Verifikasi dan Validasi (Verval) Pendistribusian Pupuk Bersubsidi Kecamatan Caringin melaksanakan kegiatan pendampingan RDKK Bersubsidi di PPTS Tani Mukti dan PPTS Berkah Tani. Kegiatan ini dilakukan melalui pengecekan data petani yang telah terdaftar dalam RDKK, khususnya untuk mengetahui petani yang rutin melakukan penebusan pupuk bersubsidi maupun petani yang belum pernah melakukan penebusan.

Hasil pengecekan data tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam proses input E-RDKK alokasi pupuk bersubsidi tahun 2027. Petani yang telah terdaftar pada RDKK dan rutin melakukan penebusan pupuk bersubsidi akan diusulkan kembali pada E-RDKK tahun 2027. Sementara itu, petani yang telah terdaftar tetapi tidak pernah melakukan penebusan pupuk bersubsidi akan menjadi bahan evaluasi dan tidak diusulkan kembali dalam RDKK tahun 2027.

Haji Ismatullah selaku pengelola PPTS Tani Makmur menyampaikan bahwa penebusan pupuk bersubsidi oleh petani yang tercatat dalam RDKK tahun 2026 masih tergolong rendah, khususnya untuk Pupuk NPK Phonska. Menanggapi hal tersebut, Petugas Verval mengimbau kepada petani yang telah terdaftar dalam RDKK namun belum melakukan penebusan agar segera memanfaatkan alokasi pupuk bersubsidi sesuai ketentuan, mengingat tahun 2026 telah memasuki periode akhir tahun.

Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar. 👇
[Red_AKw]
------

Kunjungi kami di:
IG: @jejak_penyuluh
FB: Jejak Penyuluh Pertanian
https://jejak-penyuluh.blogspot.com
°
°
°
#kementerianpertanian #pusluhtanri #bppsdmp #pusluhtanri #amran_sulaiman #distanhortijabar #dedimulyadi71 #distanhorbunkabbogor #kabupatenbogor #rudysusmanto #jaro_ade #kecamatancaringin #kecamatancijeruk #kecamatancigombong #jejak_penyuluh #PPTS_Tani_Mukti #PPTS_Berkah_Tani















PENANGANAN PROLAPSUS VAGINA PADA SAPI, PENYULUH TURUN TANGAN DI KELOMPOKTANI SUKAMANAH



Kasus Prolapsus Vagina terjadi pada ternak sapi potong milik Kelompoktani Sukamanah, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Prolapsus vagina merupakan kondisi ketika sebagian dinding vagina terdorong keluar melalui vulva, umumnya terjadi pada sapi bunting terutama menjelang kelahiran. Kondisi ini perlu segera ditangani karena jaringan yang keluar dapat mengalami pembengkakan, luka, infeksi, bahkan kematian jaringan.

Pada ternak sapi, kasus Prolapsus Vagina dapat terjadi karena perubahan hormonal dan meningkatnya tekanan di dalam rongga perut pada masa kebuntingan tua. Faktor lain yang dapat meningkatkan risikonya antara lain kebuntingan lanjut, kondisi tubuh yang terlalu gemuk, tekanan dari uterus yang membesar, faktor genetik, serta gangguan metabolisme tertentu seperti rendahnya kadar kalsium.

Penyuluh Pertanian setempat setelah melakukan koordinasi dengan petugas kesehatan hewan segera melakukan penanganan awal dengan mendorong tonjolan prolapsus secara hati-hati agar jaringan vagina kembali ke posisi semula, kemudian memberikan kompres menggunakan es batu yang dibungkus kain dan ditempelkan pada bagian vagina yang mengalami prolapsus. Pemberian kompres dingin bertujuan untuk mengurangi pembengkakan (edema), mengecilkan jaringan yang membesar sehingga lebih mudah dikembalikan ke posisi normal, serta membantu mengurangi rasa nyeri dan perdarahan ringan.

Penyuluh juga menyarankan kepada peternak agar apabila kasus Prolapsus Vagina kembali terjadi, segera menghubungi dokter hewan atau petugas kesehatan hewan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Peternak sebaiknya tidak membiarkan jaringan yang keluar terlalu lama, menjaga kebersihan area tersebut, serta menghindari tindakan penanganan yang dapat menyebabkan luka. Prolapsus dapat mengalami kekambuhan, terutama pada kebuntingan berikutnya. Dampak terburuk apabila prolapsus berulang dan tidak segera ditangani adalah jaringan vagina mengalami luka parah, infeksi, nekrosis (kematian jaringan), gangguan kelahiran, hingga dapat mengancam keselamatan induk dan pedet.

Ahmad Zaenal Abidin, atau yang lebih akrab disapa Ciko, menyampaikan kekagetannya karena ternak sapi potong miliknya baru kali ini mengalami kondisi tersebut. Ciko berharap adanya penanganan dan pendampingan yang lebih intens agar kondisi serupa tidak kembali terjadi pada ternaknya.

Kegiatan ini menjadi bagian penting dari pendampingan Penyuluh Pertanian dalam membantu peternak mengenali permasalahan kesehatan ternak serta mengambil langkah penanganan yang cepat dan tepat.

Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar.
[Red_AKw]
------

Kunjungi kami di:
IG: @jejak_penyuluh
FB: Jejak Penyuluh Pertanian
https://jejak-penyuluh.blogspot.com
°
°
°
#kementerianpertanian #pusluhtanri #bppsdmp #pusluhtanri #amran_sulaiman #distanhortijabar #dedimulyadi71 #distanhorbunkabbogor #kabupatenbogor #rudysusmanto #jaro_ade #kecamatancaringin #kecamatancijeruk #kecamatancigombong #jejak_penyuluh #desacimande #kelompoktanisukamanah





15.000 BATANG CABAI MERAH KERITING SIAP DIBUDIDAYAKAN KELOMPOKTANI BINA MANDIRI



Kegiatan Penanaman Cabai Merah Keriting dilaksanakan oleh Kelompoktani Bina Mandiri yang berlokasi di Kampung Nangleng, Desa Lemahduhur, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.

Pada blok lahan seluas 0,073 Ha yang dikelola oleh Bapak Ujang Aceng, telah dilakukan penanaman sebanyak 2.500 batang tanaman cabai merah keriting varietas TM 99 pada Jumat pagi, 28 Agustus 2026.

Sebelumnya, kegiatan pengembangan cabai merah keriting ini difasilitasi benih varietas PM 99. Namun, setelah dilakukan persemaian, pertumbuhan dan perkembangannya tidak maksimal, bahkan sekitar 50–60% tanaman mengalami kematian pada fase persemaian. Atas kondisi tersebut, Kelompoktani memutuskan mengganti varietas dengan TM 99, yang selama ini sudah biasa dibudidayakan oleh Kelompoktani Bina Mandiri yang diketuai oleh Bapak Yayan.

Untuk lahan seluas 0,073 Ha tersebut, digunakan 1,5 rol mulsa, yang merupakan bagian dari paket fasilitasi Program Pengembangan Cabai Merah Keriting.

Pelaksanaan kegiatan pengembangan cabai merah keriting ini mengalami keterlambatan akibat musim kemarau yang cukup panjang. Kegiatan yang seharusnya dilaksanakan pada bulan April baru dapat dimulai pada akhir bulan Agustus, seiring mulai turunnya hujan. Diharapkan intensitas curah hujan kembali normal sehingga petani dapat lebih optimal dalam melaksanakan pemeliharaan dan budidaya cabai merah keriting.

Dari total 30 rol mulsa yang diterima oleh Kelompoktani Bina Mandiri, sampai saat ini telah terpasang dan ditanami sebanyak 14,5 rol, dengan rincian:

🌶️ Bapak Oteng: 4 rol – 4.500 batang
🌶️ Bapak Parid: 2 rol – 1.500 batang
🌶️ Bapak Yadi: 2 rol – 2.000 batang
🌶️ Bapak Yayan: 4 rol – 3.000 batang
🌶️ Bapak Usman: 1 rol – 1.500 batang
🌶️ Bapak Ujang Aceng: 1,5 rol – 2.500 batang

Kegiatan ini menjadi salah satu langkah nyata dalam mendukung pengembangan komoditas hortikultura sekaligus meningkatkan pemanfaatan lahan dan produktivitas petani di wilayah Kecamatan Caringin.

Semoga seluruh tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, menghasilkan produksi yang optimal, serta memberikan manfaat dan peningkatan pendapatan bagi para petani.

Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar.
[Red_AKw]
------
Kunjungi kami di:
IG: @jejak_penyuluh
FB: Jejak Penyuluh Pertanian
https://jejak-penyuluh.blogspot.com
°
°
°
#kementerianpertanian #pusluhtanri #bppsdmp #pusluhtanri #amran_sulaiman #distanhortijabar #dedimulyadi71 #distanhorbunkabbogor #kabupatenbogor #rudysusmanto #jaro_ade #kecamatancaringin #kecamatancijeruk #kecamatancigombong #jejak_penyuluh #desalemahdhuhur #kelompoktanibinamandiri






Kamis, 27 Agustus 2026

TANAM PADI METODE PM-AAS DI KELOMPOKTANI SATRIA MUDA DESA PASIRBUNCIR, TARGETKAN PRODUKTIVITAS 10 TON LEBIH PER HEKTARE



Kegiatan Penanaman Padi Sawah menggunakan metode PM-AAS (Pertanian Modern – Advanced Agriculture System) dilaksanakan bersama  yang berlokasi di Desa Pasirbuncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.

Kegiatan ini didampingi langsung oleh Penyuluh Pertanian setempat, Ibu Deudeu, SH, SP., serta dibantu oleh Penyuluh Pertanian WKPP Muarajaya dan WKPP Cimande, Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) Desa Pasirbuncir, serta mahasiswa Polbangtan Cinagara Bogor.

Kelompoktani yang diketuai oleh Bapak Asep Saepuloh ini menargetkan penerapan metode PM-AAS pada lahan seluas 3 hektare, dengan pelaksanaan penanaman dijadwalkan selesai pada hari Minggu.

Penyuluh Pertanian setempat menyampaikan bahwa budidaya padi sawah menggunakan metode PM-AAS memiliki sejumlah keunggulan, antara lain pengaturan populasi dan jarak tanam yang lebih optimal, efisiensi penggunaan air dan pupuk, pemanfaatan mekanisasi, pengelolaan tanaman secara presisi, efisiensi biaya dan tenaga kerja, serta peningkatan produktivitas lahan. PM-AAS juga mengintegrasikan praktik budidaya modern dengan teknologi dan pengelolaan input secara lebih terukur.

Dari sisi produksi, penerapan PM-AAS secara baik dan benar memiliki potensi menghasilkan minimal 10 ton gabah per hektare, bahkan hasil uji lapangan telah mencapai 12,4 ton per hektare. Pencapaian tersebut didukung antara lain oleh optimalisasi fotosintesis melalui pengaturan jarak tanam, peningkatan populasi tanaman, serta penerapan pertanian presisi sehingga input produksi dapat digunakan secara lebih efisien.

Melalui pendampingan yang intensif dari Penyuluh Pertanian bersama seluruh pihak yang terlibat, diharapkan penerapan PM-AAS di Desa Pasirbuncir khususnya di Kelompoktani Satria Muda 1 dapat berjalan optimal, meningkatkan produktivitas padi, menekan biaya produksi, serta memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan petani dan mendukung terwujudnya swasembada pangan berkelanjutan.

💬 Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar.

[Red_AKw]
------------
Kunjungi kami di:
IG: @jejak_penyuluh
FB: Jejak Penyuluh Pertanian
https://jejak-penyuluh.blogspot.com
°
°
°
#kementerianpertanian #pusluhtanri #bppsdmp #pusluhtanri #amran_sulaiman #distanhortijabar #dedimulyadi71 #distanhorbunkabbogor #kabupatenbogor #rudysusmanto #jaro_ade #kecamatancaringin #kecamatancijeruk #kecamatancigombong #jejak_penyuluh #desaPasirbuncir #kelompoktaniSatriaMuda1
















































































TATA CARA PEMUPUKAN PADI SAWAH METODE PM-AAS BERDASARKAN 5 TEPAT

1. TEPAT WAKTU Pemupukan dilakukan secara bertahap mengikuti fase pertumbuhan tanaman padi, sehingga unsur hara tersedia ketika benar-bena...