PASIRBUNCIR – Penyuluh Pertanian bersama Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) melaksanakan monitoring pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi sawah yang dibudidayakan menggunakan metode PM-AAS di Kelompoktani Satria Muda, Desa Pasirbuncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.
Dari hasil monitoring, ditemukan beberapa petak sawah yang pertumbuhan dan perkembangannya kurang optimal. Menindaklanjuti temuan tersebut, Penyuluh Pertanian setempat, Ibu Deudeu, SH, SP., bersama petugas POPT melakukan identifikasi lebih lanjut. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa tanaman mengalami keterlambatan pemupukan yang diperparah oleh kondisi kekeringan, sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi terganggu.
Dalam kesempatan tersebut, Ibu Deudeu, SH, SP., mengimbau petani agar melaksanakan pemupukan secara tepat waktu, tepat dosis, dan sesuai rekomendasi budidaya padi sawah metode PM-AAS.
Adapun rekomendasi pemupukan yang disampaikan meliputi:
1. Pemupukan pertama: pada umur 20–25 hari setelah tanam (HST), menggunakan NPK Phonska sebanyak 300 kg/ha.
2. Pemupukan kedua: pada umur 40–45 HST, menggunakan Urea sebanyak 175 kg/ha yang dicampur dengan NPK Phonska sebanyak 100 kg/ha.
3. Pemupukan susulan: apabila diperlukan, Urea sebanyak 175 kg/ha dapat diberikan pada fase primordia dengan mempertimbangkan kondisi tanaman dan rekomendasi teknis setempat.
Selain pemupukan anorganik, pengelolaan kesuburan tanah dan pemenuhan kebutuhan unsur hara juga perlu diperhatikan. Pada saat pengolahan lahan, pemberian pupuk organik perlu dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi lahan. Pupuk organik cair (POC) dapat ditambahkan sesuai kebutuhan tanaman dan petunjuk penggunaan produk.
Untuk mendukung kekuatan batang dan membantu mengurangi risiko kerebahan, silika padat dapat diaplikasikan sekitar 400 kg/ha sebelum atau saat tanam sesuai rekomendasi teknis. Sementara itu, silika cair dapat diberikan pada umur 25, 35, 45, dan 55 HST sesuai dosis pada label produk. Penggunaan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) juga perlu disesuaikan dengan fase vegetatif maupun generatif tanaman serta petunjuk penggunaan yang berlaku.
PENGENDALIAN HAMA TIKUS DENGAN PENDAMPINGAN POPT
Kegiatan dilanjutkan dengan pengendalian serangan hama tikus pada lahan sawah milik Ketua Kelompoktani Satria Bergitar, Bapak Asep Saepuloh, yang akrab disapa Bapak Duleh.
Pengendalian tersebut didampingi langsung oleh Kang Beni Muhibin selaku Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), dengan metode fumigasi pada lubang tikus sesuai prosedur pengendalian yang berlaku.
Pengendalian hama tikus perlu dilakukan secara tepat dan terpadu untuk menekan risiko kerusakan tanaman serta mengurangi potensi kehilangan hasil panen. Pelaksanaannya harus memperhatikan keselamatan petani, lingkungan, dan organisme bukan sasaran, serta mengikuti petunjuk teknis penggunaan bahan fumigan.
Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar.
[Red_AKw]
-------
Kunjungi kami di:
IG: @jejak_penyuluh
FB: Jejak Penyuluh Pertanian
https://jejak-penyuluh.blogspot.com
°
°
°
#kementerianpertanian #pusluhtanri #bppsdmp #pusluhtanri #amran_sulaiman #distanhortijabar #dedimulyadi71 #distanhorbunkabbogor #kabupatenbogor #rudysusmanto #jaro_ade #kecamatancaringin #kecamatancijeruk #kecamatancigombong #jejak_penyuluh #desapasirbuncir #kelompoktanisatriamuda #pmaas #popt



























































































