Penyuluhan Teknik Budidaya Padi Sawah menggunakan metode PM-AAS (Pertanian Modern Advance Agriculture System) dilaksanakan di Kelompoktani Legok Mahmud, Desa Lemahduhur, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Dalam kegiatan tersebut, petani padi yang tergabung dalam Kelompoktani Legok Mahmud menyatakan kesiapan untuk menerapkan metode PM-AAS pada lahan sawah seluas 1 hektare, meskipun lokasinya tidak berada dalam satu hamparan.
Penyuluh Pertanian Desa Lemahduhur menyampaikan materi mengenai penerapan 5 Tepat dalam pemupukan, yaitu Tepat Waktu, Tepat Jenis, Tepat Dosis, Tepat Tempat, dan Tepat Cara. Prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam penerapan budidaya padi sawah metode PM-AAS agar pemupukan lebih efisien, sesuai kebutuhan tanaman, kondisi tanah, serta fase pertumbuhan tanaman.
Dalam materi penyuluhan dijelaskan pembagian dosis dan waktu pemupukan, antara lain Urea dengan total dosis 300 kg/ha, yang diberikan dalam dua tahap. Aplikasi pertama sebanyak 150 kg/ha pada umur sekitar 40–45 Hari Setelah Semai (HSS), kemudian aplikasi kedua sebanyak 150 kg/ha pada fase primordia atau inisiasi malai berdasarkan hasil monitoring Bagan Warna Daun (BWD).
Untuk NPK Majemuk dengan total dosis 400 kg/ha, pemupukan dibagi menjadi dua tahap, yaitu 300 kg/ha pada umur 20–25 Hari Setelah Tanam (HST) dan 100 kg/ha pada umur 40–45 HST.
Selain NPK dan Urea, materi juga mencakup penggunaan SP-36 (fosfat) sesuai status hara tanah, dengan rekomendasi dosis berdasarkan kondisi tanah; pupuk organik seperti pupuk kandang matang, kompos atau biochar dengan dosis minimal 2 ton/ha; pupuk silika (Si) dengan kandungan SiO₂ minimal 25% dan aplikasi sesuai anjuran; serta amelioran dolomit yang disesuaikan dengan kondisi pH tanah.
Penyuluhan juga menekankan pentingnya penggunaan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT/booster) secara bijaksana untuk mendukung pertumbuhan tanaman, meningkatkan ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta mendukung pertumbuhan pada fase vegetatif dan generatif.
Penerapan PM-AAS tetap mengedepankan pemupukan berimbang antara unsur hara makro dan mikro sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi lahan. Monitoring warna daun melalui BWD juga menjadi salah satu dasar dalam menentukan waktu aplikasi Urea berikutnya. Dengan demikian, penggunaan pupuk tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga efisiensi pemupukan, kesehatan tanaman, dan keberlanjutan lahan.
Bapak Ade, selaku Ketua Kelompoktani Legok Mahmud, menyampaikan bahwa Kelompoktani yang dipimpinnya siap mendukung program pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian, dalam menyukseskan penerapan budidaya padi sawah menggunakan metode PM-AAS sebagai salah satu upaya menuju Swasembada Pangan Berkelanjutan.
Kelompoktani Legok Mahmud memiliki potensi lahan sawah sekitar 15 hektare. Dari potensi tersebut, saat ini petani mulai mempersiapkan penerapan metode PM-AAS pada lahan seluas 1 hektare sebagai langkah awal. Penerapan teknologi dan tata kelola budidaya yang lebih terukur diharapkan dapat meningkatkan produktivitas padi dan memberikan hasil yang lebih optimal bagi petani.
“Pemupukan tepat, padi sehat, hasil meningkat, dan lahan lestari.”
Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar.
[Red_AKw]
------
Kunjungi kami di:
IG: @jejak_penyuluh
FB: Jejak Penyuluh Pertanian
https://jejak-penyuluh.blogspot.com
°
°
°
#kementerianpertanian #pusluhtanri #bppsdmp #pusluhtanri #amran_sulaiman #distanhortijabar #dedimulyadi71 #distanhorbunkabbogor #kabupatenbogor #rudysusmanto #jaro_ade #kecamatancaringin #kecamatancijeruk #kecamatancigombong #jejak_penyuluh #lemahduhur #legokmahmud





















































