1. TEPAT WAKTU
Pemupukan dilakukan secara bertahap mengikuti fase pertumbuhan tanaman padi, sehingga unsur hara tersedia ketika benar-benar dibutuhkan tanaman.
NPK majemuk diberikan dalam dua tahap. Pemupukan pertama dilakukan pada umur 20–25 HST (Hari Setelah Tanam) sebanyak 300 kg/ha. Pemupukan kedua diberikan pada umur 40–45 HST sebanyak 100 kg/ha. Dengan demikian, total NPK majemuk adalah 400 kg/ha.
Urea diberikan secara bertahap. Sebanyak ½ dosis atau 150 kg/ha diberikan pada umur 40–45 HSS (Hari Setelah Sebar). Sisa Urea diberikan ketika tanaman mulai memasuki fase primordia, yaitu fase awal pembentukan malai. Pemberian sisa Urea tersebut mengikuti hasil monitoring warna daun menggunakan Bagan Warna Daun (BWD).
Pupuk Silika cair diberikan secara bertahap pada umur 15, 25, 35, 45, dan 55 HST. Penyemprotan dilakukan pada pagi hari ketika stomata tanaman terbuka.
SP-36, apabila diperlukan berdasarkan status P tanah, diberikan pada awal tanam. Sementara itu, dolomit diberikan sekitar 1–2 minggu sebelum tanam apabila kondisi tanah memerlukan pengapuran.
2. TEPAT JENIS
Pemilihan pupuk harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.
NPK majemuk merupakan sumber unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). NPK berfungsi mendukung pertumbuhan batang dan daun serta memperkuat sistem perakaran padi.
Urea digunakan sebagai sumber utama Nitrogen tambahan. Pemberiannya tidak dilakukan sekaligus, tetapi dibagi sesuai fase pertumbuhan dan hasil monitoring BWD.
SP-36 dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan Fosfor dan membantu meningkatkan kebernasan gabah. Penggunaannya disesuaikan dengan status P tanah.
Pupuk organik juga direkomendasikan sebagai bagian dari sistem PM-AAS. Bentuknya dapat berupa pupuk organik granul (POG), pupuk kandang yang sudah matang, kompos, biochar, maupun bahan organik lainnya.
Pupuk Silika (Si) digunakan sebagai salah satu bahan pendukung untuk membantu mencegah tanaman mengalami kerebahan.
Dolomit/amelioran digunakan apabila kondisi tanah memerlukan perbaikan, terutama pada tanah masam.
ZPT/booster dapat digunakan untuk meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit serta mendukung pertumbuhan pada fase vegetatif maupun generatif.
3. TEPAT DOSIS
Untuk dosis utama, pemupukan dilakukan sebagai berikut.
NPK majemuk total 400 kg/ha
NPK diberikan dalam dua kali aplikasi:
Pertama: umur 20–25 HST sebanyak 300 kg/ha.
Kedua: umur 40–45 HST sebanyak 100 kg/ha.
Jadi:
300 kg/ha + 100 kg/ha = 400 kg/ha NPK majemuk.
Pembagian ini dimaksudkan agar penyediaan unsur hara N, P, dan K berlangsung secara bertahap sesuai pertumbuhan tanaman.
Urea total 300 kg/ha
Urea dibagi menjadi dua bagian utama.
Pertama: sebanyak 150 kg/ha atau ½ dosis diberikan pada umur 40–45 HSS.
Kedua: sisa 150 kg/ha diberikan ketika tanaman memasuki fase primordia, dengan dosis pemberian disesuaikan berdasarkan hasil monitoring warna daun menggunakan BWD.
Dengan demikian:
150 kg/ha + 150 kg/ha = 300 kg/ha Urea.
Namun, perlu diperhatikan bahwa 150 kg/ha kedua tidak semata-mata diberikan berdasarkan hitungan kalender, melainkan waktunya mengikuti masuknya tanaman ke fase primordia dan rekomendasi hasil monitoring BWD.
SP-36
Jika diperlukan untuk meningkatkan kebernasan gabah, dosisnya mengikuti status P tanah:
P tanah rendah: 100 kg/ha.
P tanah sedang: 75 kg/ha.
P tanah tinggi: 50 kg/ha.
SP-36 diberikan pada awal tanam.
Pupuk organik
Pupuk organik padat direkomendasikan diberikan secara rutin dengan dosis minimal 2 ton/ha. Pupuk organik cair dapat diberikan apabila diperlukan dan dosisnya disesuaikan dengan kebutuhan.
Silika
Silika padat digunakan dengan kandungan SiO₂ minimal 25% dan dosis mengikuti anjuran produk.
Untuk Silika cair, kandungan SiO₂ minimal 10%, dengan dosis sekitar 3 L/ha atau sesuai dosis anjuran produk.
Dolomit
Pada tanah masam dengan pH ≤5,5, direkomendasikan dolomit minimal 1 ton/ha.
Pada tanah dengan pH 5,5–6,0, diberikan 500 kg/ha.
Pada tanah dengan pH netral, tidak perlu diberikan dolomit.
Dosis amelioran pada kondisi lainnya disesuaikan dengan kondisi spesifik lahan dan hasil analisis tanah.
4. TEPAT TEMPAT
Pemupukan harus ditempatkan atau diarahkan pada sasaran yang sesuai dengan karakter pupuk dan kebutuhan tanaman.
Pupuk NPK dan Urea diberikan pada areal pertanaman padi sesuai jadwal pemupukan dan kebutuhan tanaman.
SP-36 diberikan pada awal tanam untuk memenuhi kebutuhan Fosfor, terutama apabila status P tanah rendah.
Pupuk organik diberikan pada lahan pertanaman untuk membantu menjaga kesehatan tanah dan keberlanjutan sistem produksi padi.
Dolomit diberikan pada tanah yang membutuhkan perbaikan sifat kimia, fisik, dan biologi, terutama tanah dengan tingkat kemasaman tinggi.
Untuk Silika cair, aplikasinya diarahkan langsung ke tanaman melalui penyemprotan. Penyemprotan dilakukan pada pagi hari saat stomata terbuka agar aplikasi sesuai dengan karakter penggunaannya.
5. TEPAT CARA
Pemupukan Padi Sawah menggunakan metode PM-AAS dilakukan dengan prinsip efisien, berimbang, dan sesuai kebutuhan tanaman serta kondisi lahan.
NPK tidak diberikan sekaligus, tetapi dibagi menjadi dua aplikasi, yaitu 300 kg/ha pada umur 20–25 HST dan 100 kg/ha pada umur 40–45 HST.
Urea juga tidak diberikan sekaligus. 150 kg/ha diberikan pada umur 40–45 HSS, sedangkan sisa 150 kg/ha diberikan saat tanaman memasuki fase primordia berdasarkan hasil monitoring BWD.
Pupuk organik diberikan secara rutin untuk membantu menjaga kesehatan tanah.
Silika cair diaplikasikan dengan cara disemprotkan ke tanaman pada pagi hari saat stomata terbuka, dan dilakukan secara bertahap pada umur 15, 25, 35, 45, dan 55 HST.
*URUTAN PRAKTIS PEMUPUKAN PADI SAWAH METODE PM-AAS*
-----
Secara sederhana, pelaksanaan pemupukan dapat dipahami sebagai berikut:
1. Sebelum tanam
Periksa kondisi dan pH tanah. Jika tanah masam, berikan dolomit sekitar 1–2 minggu sebelum tanam sesuai kebutuhan.
2. Awal tanam
Berikan SP-36 apabila diperlukan berdasarkan status P tanah. Pupuk organik juga diberikan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan tanah.
3. Umur 20–25 HST
Berikan NPK majemuk 300 kg/ha.
4. Umur 40–45 HST
Berikan NPK majemuk 100 kg/ha sehingga total NPK menjadi 400 kg/ha.
5. Umur 40–45 HSS
Berikan Urea 150 kg/ha, yaitu setengah dari total dosis 300 kg/ha.
6. Memasuki fase primordia
Berikan sisa Urea 150 kg/ha, dengan pemberian mengikuti hasil monitoring menggunakan BWD.
7. Umur 15, 25, 35, 45, dan 55 HST
Apabila menggunakan Silika cair, lakukan penyemprotan sekitar 3 L/ha atau sesuai dosis label produk, pada pagi hari saat stomata terbuka.
🎯 _*KESIMPULAN*_
Pemupukan padi sawah dengan metode PM-AAS harus dilakukan berdasarkan prinsip 5 Tepat, yaitu:
Tepat waktu → pupuk diberikan sesuai fase pertumbuhan tanaman.
Tepat jenis → gunakan NPK, Urea, SP-36, pupuk organik, Silika, dolomit, dan bahan pendukung lainnya sesuai kebutuhan.
Tepat dosis → gunakan dosis yang direkomendasikan dan sesuaikan dengan kondisi tanah serta hasil monitoring tanaman.
Tepat tempat → pupuk diaplikasikan pada sasaran yang tepat, baik tanah maupun tanaman sesuai jenis pupuknya.
Tepat cara → pupuk diberikan secara bertahap, berimbang, efisien, dan sesuai karakter masing-masing pupuk.
Dengan pola tersebut, NPK 400 kg/ha dibagi menjadi 300 kg/ha + 100 kg/ha, sedangkan Urea 300 kg/ha dibagi menjadi 150 kg/ha + sisa 150 kg/ha pada fase primordia berdasarkan BWD. Prinsip utamanya adalah tidak memberikan Nitrogen secara berlebihan, karena kelebihan Nitrogen dapat meningkatkan risiko kerebahan serta serangan hawar daun bakteri dan blas.
Sumber: Petunjuk Teknis PM-AAS yang diterbitkan oleh Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian
Dirangkum oleh: AKw
------
Kunjungi kami di:
IG: @jejak_penyuluh
FB: Jejak Penyuluh Pertanian
https://jejak-penyuluh.blogspot.com
°
°
°
#kementerianpertanian #pusluhtanri #bppsdmp #pusluhtanri #amran_sulaiman #distanhortijabar #dedimulyadi71 #distanhorbunkabbogor #kabupatenbogor #rudysusmanto #jaro_ade #kecamatancaringin #kecamatancijeruk #kecamatancigombong #jejak_penyuluh #pm_aas

Tidak ada komentar:
Posting Komentar