Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) bersama Penyuluh Pertanian WKPP Muarajaya melaksanakan kegiatan pengendalian hama tikus di lahan sawah milik salah satu anggota Kelompoktani Setia Wargi, yaitu Bapak Haji Tumirin. Kegiatan ini bertujuan untuk menekan populasi hama tikus yang berpotensi menimbulkan kerusakan tanaman serta mengurangi kehilangan hasil panen.
Kegiatan diawali dengan pembabatan rumput liar yang tumbuh di sekitar galengan sawah. Pembersihan area ini dilakukan agar keberadaan lubang atau sarang tikus lebih mudah ditemukan sekaligus mengurangi tempat persembunyian hama. Setelah lubang aktif berhasil diidentifikasi, dilakukan pengendalian menggunakan brankus belerang (sulfur) bakar melalui metode pengemposan.
Penggunaan brankus belerang dilakukan dengan cara menyalakan brankus hingga menghasilkan asap putih pekat. Setelah asap keluar secara stabil, brankus segera dimasukkan ke dalam lubang atau sarang tikus. Mulut lubang kemudian ditutup rapat menggunakan tanah agar asap tidak keluar dan tetap memenuhi seluruh lorong sarang. Apabila ditemukan lubang lain yang saling terhubung, lubang tersebut juga ditutup agar asap terkonsentrasi di dalam sistem sarang sehingga tikus yang berada di dalamnya dapat mati karena paparan asap. Setelah beberapa saat, kondisi lubang diamati kembali untuk memastikan tidak ada asap yang keluar dan proses pengemposan berlangsung secara efektif.
Pada kesempatan tersebut, Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yaitu kang Beni Muhibbin, juga memberikan penjelasan mengenai teknik pengaplikasian brankus yang benar agar pengendalian berlangsung efektif sekaligus aman bagi petani. Pengaplikasian sebaiknya dilakukan pada lubang yang benar-benar aktif, saat kondisi angin tidak terlalu kencang, dan petugas harus selalu berdiri di sisi yang tidak terkena arah hembusan asap. Selama proses berlangsung, petani dianjurkan menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan pakaian lengan panjang. Petani juga diingatkan agar tidak menghirup asap belerang secara langsung karena dapat mengganggu saluran pernapasan, menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Setelah pengemposan selesai, petani dianjurkan segera menjauh dari lokasi hingga asap benar-benar hilang serta mencuci tangan dan membersihkan peralatan yang digunakan.
Melalui kegiatan ini diharapkan populasi hama tikus dapat ditekan secara efektif sehingga tanaman padi terhindar dari serangan yang dapat menurunkan produktivitas. Sinergi antara POPT, Penyuluh Pertanian, dan petani menjadi kunci keberhasilan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) secara tepat, aman, dan berkelanjutan.
Kesimpulan:
Kegiatan pengendalian hama tikus menggunakan brankus belerang (sulfur) bakar merupakan salah satu metode yang efektif untuk memusnahkan tikus di dalam sarang apabila dilakukan sesuai prosedur. Penerapan teknik pengemposan yang benar, disertai penggunaan alat pelindung diri dan memperhatikan aspek keselamatan kerja, mampu meningkatkan efektivitas pengendalian sekaligus melindungi kesehatan petani. Kolaborasi antara POPT, Penyuluh Pertanian, dan Kelompoktani menjadi langkah penting dalam menjaga produktivitas tanaman padi serta mendukung keberhasilan usaha tani.
[Red_AKw]
-------
Kunjungi kami di:
IG: @jejak_penyuluh
FB: Jejak Penyuluh Pertanian
https://jejak-penyuluh.blogspot.com
°
°
°
#kementerianpertanian #pusluhtanri #bppsdmp #pusluhtanri #amran_sulaiman #distanhortijabar #dedimulyadi71 #distanhorbunkabbogor #kabupatenbogor #rudysusmanto #jaro_ade #kecamatancaringin #kecamatancijeruk #kecamatancigombong #jejak_penyuluh #desamuarajaya #kelompoktanisetiawargi








Tidak ada komentar:
Posting Komentar